Pemeriksaan diagnostik menggunakan modalitas rontgen, USG dan CT-Scan yang diselenggarakan harus mampu mendeteksi kelainan-kelainan sebagai berikut :

Pemeriksaan dengan dan tanpa media kontras meliputi pemeriksaan :

  1. Tractus gastrointenstinal (oesophagus, gaster, duodenum, jejunum, ileum, colon, sigmoid, rectum)
  2. Tractus urinarius
  3. Tractus respiratorius
  4. System muscolosceletal (cranium, collumna vertebralis, ekstremitas, articulations, pelvis)

Pemeriksaan USG yang mendeteksi kelainan-kelainan :

  1. Hepar
  2. Vesica fellea (Gall Bladder/ kandung empedu)
  3. Ginjal
  4. Pancreas
  5. Lien
  6. Vesica urinaria
  7. Mammae
  8. Thyroid
  9. Lymphe node

Pemeriksaan CT-Scan yang dapat dilakukan adalah :

  1. Kepala, dengan dan tanpa media kontras.
  2. Abdomen, dengan dan tanpa media kontras.
  3. Thorax, dengan dan tanpa media kontras.
  4. Sinus Paranasalis, dengan dan tanpa media kontras.
  5. Vertebrae ( Cervical, Thoracal, Lumbal, Sacrum, Coxigeus).

 

  1. Nomor urut antrian berdasarkan waktu lapor kedatangan pasien kepada petugas administrasi.
  2. Pasien baru bisa dilakukan proses pendaftaran langsung dipoli rehabilitasi medik
  3. Pasien dengan alat bantu dibuatkan ruang tunggu tersendiri dan dibawah pengawasan petugas rehabilitasi medik.
  4. Setiap pasien yang datang ke administrasi untuk melakukan proses pendaftaran harus langsung dilakukan skoring resiko jatuh dan dilakukan penanganan pasien resiko jatuh dan dilakukan skrening nyeri.Khusus untuk anak – anak yang dalam pengawasan orang tua tidak dilakukan asesmen resiko jatu.
  5. Untuk pasien baru harus dilakukan pemeriksaan oleh dr SpKFR terlebih dahulu sebelum mendapatkan tindakan terapi,jika dr SpKFR berhalangan maka dilakukan konsultasi oleh terapis melalui telpon.
  6. Untuk pasien rawat inap periksa dr hanya dilakukan sekali saja,bisa dilakukan pemeriksaan lagi jika ada sesuatu hal atau ada permintaan khusus dari terapis.
  7. Pasien dengan resiko jatuh sedang sampai tinggi dilakukan pelayanan terapi ditempat tidur yang memenuhi standar untuk pencegahan pasien jatuh.
  8. Peralatan yang terdapat pada rehabilitasi medis harus di uji dan di kalibrasi secara berkala oleh Badan Pengujian Fasilitas kesehatan dan / atau institusi pengujian fasilitas kesehatan yang berwenang sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
  9. Untuk mempertahankan dan meningkatkan kompetensi, setiap petugas wajib mengikuti pelatihan yang diselenggarakan.
  10. Untuk proses administrasi pasien umum,Petugas fisioterapi harus memastikan berkas KEU-01 dan pasienya yang dipergunakan untuk administrasi sampai ke kasir.
  11. Pasien dengan tindakan fisioterapi latihan maka perlu di cek tekanan darah terlebih dahulu dan harus dalam kondisi fisik yang stabil serta pastikan pasien tidak dalam kondisi puasa,serta disaat proses terapi selalu jaga komunikasi dengan pasien agar petugas tau kapan pasien perlu istirahat atau menyudahi latihan.
  12. Indikasi dan kontra indikasi latihan gerak pasif

Indikasi :

  1. kondisi coma / post coma
  2. kondisi lama bed rest
  3. kondisi post operative,post fraktur / dislokasi,lama tidak befungsi / imobilisasi
  4. kondisi kekakuan sendi dan pemendekan otot

Kontra indikasi:

  1. Pasien denga panas tinggi dan adanya proses peradangan akut
  2. Hipper ekstensi dan hiper adduksi pada post fraktur collum femoris dengan Moore Prothese / pen dan post fraktur shaft of femur dengan pen
  3. Indikasi dan kontra indikasi latihan aktif.

Indikasi :

  1. Kondisi kelemahan otot dengan nilai 3 ke atas
  2. Kondisi kesulitan pengontrolan gerak anggota gerak tubuh
  3. Kondisi terhambatnya jarak gerakan sendi
  4. Kondisi ketegagan otot dan jaringan lunak

Kontra indikasi:

  1. Pasien dengan panas tinggi
  2. Penderita dalam keadaan bed rest total
  3. Penderita penyakit jantung perlu teknik khusus
  4. Penderita khusus habis operasi dengan Moore Prothese gerakan sendi paha (hip join) adduksi,flexi dan internal otasi tidak boleh berlebihan
  5. Penderita yang tidak kooperatif
  6. Indikasi dan kontra indikasi latihan aktif dengan beban :

Indikasi :

  1. Kondisi kelemahan otot dengan nilai 4
  2. Kondisi kesilitan pengontrolan anggota gerak
  3. Kondisi menyusutnya volume otot (atrophy)

Kontra indikasi :

  1. Penderita panas tinggi
  2. Penderita dalam keadaan bed rest total
  3. Penderita penyakit jantung perlu teknis khusus

Penderita khusus habis operasi dengan moore prothese gerakan sendi paha (hip join) adduksi,flexi dan internal rotassi tidak boleh berlebihan

Beberapa pemeriksaan yang bisa dilakukan di Instalasi Laboratorium sbb :

  1. Hematologi. Menggunakan alat analyser dengan kemampuan 5 differensial sel lekosit. Pemeriksaan lain yang tercakup dalam hematologi adalah LED, pemeriksaan hapusan darahatau morfologi darah, pemeriksaan golongan darah.
  2. Faal Hemostasis. Faal hemostasisadalah pemeriksaan untuk fungsi koagulasi  darah. Yang dapat dilakukandi laborarotium adalah pemeriksaan Plasma Protrombin Time ( PPT ) danAktivated Partial Thromboplastin Time ( APTT ), Cloting, Bleeding Time dan Retraksi bekuan. Untuk pemeriksaan faktor- faktor pembekuan akan dirujuk kelaboratorium rujukan.
  3. Kimia Klinik. Parameter Kimia Klinik yang tersedia adalah parameter  untuk pemeriksaan fungsi hati, fungsi ginjal, profil lemak,petanda penyakit jantung/cardiovaskuler, diabetes dan monitoringnya.
  4. Elektrolit dan Analisa Gas Darah. Pemeriksaan elektrolit untuk Natrium, Kalium, Calsium Ion, dan analisa gas darah menggunakan reagen kering(catridge)
  5. Urinalisa. Urinalisa memakai 10 parameter dalam 1 strip urin. Menggunakan metode semiautomatik, karenates kimiawi dibaca hasilnya dengan alat sedangkan mikroskopis sel masih manual, yaitu pembacaan dengan mikroskopis
  6. Imunoserologi. Beberapa tes imunoserologi yang ada merupakan rapid test, dan sebagian merupakan tes aglutinasi manual

 

 

  1. Mikrobiologi dan Parasitologi.

Parameter mikrobiologi yang dilakukan hanya pengecatan Gram dan  Ziel Nielsen

  1. Patologi Anatomi ( PA ).

Untukpemeriksaan patologi anatomi laboratorium RS BAPTIS BATU, merujukke laboratorium PA   yang bekerjasama dengan Rumah Sakit.

Konseling Gizi :

  1. Pasien datang keruang konseling gizi dengan membawa surat rujukan dokter dari poliklinik yang ada dirumah sakit atau dari luar rumah sakit.
  2. Dietisen melakukan pencatatan data pasien dalam buku registrsi.
  3. Dietisen malakukan asesmen gizi dimulai dengan pengukuran antropometri pada pasien yang belum ada data TB ,BB
  4. Dietisen melanjutkan asesmen/pengkajian gizi berupa anamnesa riwayat makan,riwayat personal,membaca hasil pemeriksaan lab dan fisik klinis (bila ada).kemudian menganalisa semua data asesmen gizi.
  5. Dietisen menetapkan diagnosa gizi.
  6. Dietisen memberikan intervensi gizi berupa edukasi dankonseling dengan langkah menyiapkan dan mengisi leaflet diet sesuai penyakit dan kebutuhan gizi pasien serta menjelaskan tujuan diet ,jadwal,jenis jumlah bahan makanan sehari,menjelaskan makanan yang dianjurkan dan tidak dianjurkan,cara pemasakan dan lain-lain disesuaikan dengan pola makan dan keinginan serta kemampuan pasien.
  7. Dietisen menganjurkan pasien untuk kunjungan ulang,untuk mrngrtahui keberhasilan intervensi(monev)dilakukan monitoring dan evaluasi gizi.
  8. Pencatatan hasil koneling gizi dengan format ADIME(asesmen,diagnosis,intervensi,monitoring dan evaluasi) dimasukkan kedalam rekam medik pasien atau disampaikan ke dokter melalui pasien untuk pasien diluar rumah sakit dan diarsipkan diruang konseling.

Penyuluhan gizi :

  1. Menentukan materi sesuai kebutuhan
  2. Membuat susunan materi yang akan disajikan
  3. Merencanakan media yang akan digunakan
  4. Pengumuman jadwal dan tempat penyuluhan
  5. Persiapan ruangan dan alat bantu yang dibutuhkan
  6. Peserta mengisi daftar hadir(absensi)
  7. Dietisen menyampaikan materi penyuluhan
  8. Tanya jawab.

 

KLINIK BEDAH
SPESIALIS BEDAH UMUM
Nama Dokter Pagi Waktu Sore Waktu
       
         
         
SPESIALIS UROLOGI
       
 
       
SPESIALIS MATA
         
       
SPESIALIS KEBIDANAN DAN KANDUNGAN
         
         
       
SPESIALIS THT-KL
         
 
KLINIK NON BEDAH
SPESIALIS JANTUNG DAN PEMBULUH DARAH
         
         
         
   
SPESIALIS SARAF
         
         
 
         
SPESIALIS PENYAKIT DALAM
         
         
       
SPESIALIS ANAK
         
         
         
         
SPESIALIS ANDROLOGI
   
 
SPESIALIS REHABILITASI MEDIS
         
 
SPESIALIS KULIT DAN KELAMIN
         
         
KESEHATAN GIGI DAN MULUT
Nama Dokter Pagi Waktu Sore Waktu
SPESIALIS ORTODONSI
         
 
         
 
         
 
       
         
         
       
         
         
         
         
         
DOKTER GIGI UMUM
Nama Dokter Pagi Waktu Sore Waktu
         
         
       
         
Dokter Umum